Showing posts with label Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Sejarah. Show all posts

Sejarah Poltekkes Kemenkes Manado

Unknown | 0 comments


Program JPT-D Poltekkes Manado di mulai pada tahun 2001 yang merupakan gabungan dari akademi Pendidikan kesehatan di bawah pembinaan dan tanggung jawab departemen kesehatan RI, antara lain:  Akademi Keperawatan, Akademi Kebidanan, Akademi Gizi dan Akademi Kesehatan Lingkungan. Penggabungan tersebut dari empat akademi pendidikan kesehatan mengandung konsekuensi adanya perubahan dari akademi menjadi jurusan-jurusan di bawah institusi Poltekkes Kemenkes Manado. Penggabungan keempat akademi berdasarkan keputusan Menkes-Kesos Nomor : 298/Menke-Kesos/SK/IV/2001 tanggal 16 april 2001 dengan status kelembagaan di bawah tanggung jawab Dep.Kes RI.
            Sejalan dengan perkembangan dan kebutuhan masyarakat pada tahun 2004 Poltekkes Kemenkes Manado bertambah 2 jenis pendidikan yaitu : Jurusan Farmasi dan Jurusan Kesehatan Gigi berdasarkan Keputusan Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kesehatan. (Badan PPSDM Kesehatan) Nomor : KP.00.1.1.2.411.2004 tanggal 09 Jnuari 2004.Kemudian tanggal 15 Juni 2010, di tetapkan SK Nomor : HK.03.06/I/II/4.1.2010 tentang pendirian Jurusan Analis Kesehatan Manado.
            Berdasarkan Surat dari Sekretariat Jendral Kementrian Kesehatan RI Nomor TU 05.02/II/II1535/2010. Tanggal 18 Februari 2010 tentang perubahan Nomenkatuur Separtemen Kesehatan RI menjadi Kementrian Kesehatan RI, maka Politeknik Kesehatan Depkes Manado berubah menjadi Politeknik Kesehatan Kemkes Manao.
            Pada saat ini Politeknik Kesehatan Kemenkes Manado memiliki 7 (tujuh) Jurusan dan 11 program studi, yaitu jurusan keperawatan, Kebidanan, Gizi, Kesehatan Lingkungan, Farmasi, Keperawatan Gigi, dan AnaliS Kesehatan. Program Studi terdiri dari 7 Program studi Diploma 3 (DIII) Kesehatan Lingkungan, Diploma 3 Farmasi, Diploma 3 Keperawatan Gigi, Diploma 3 Kebidanan, Diploma 3 Kesehatan Lingkngan, Diploma 3 Analis Kesehatan, dan Diploma 3 Gizi. Serta 4 Program Studi Diploma 4, yaitu Diploma 4 Gizi, Diploma 4 Kesehatan Lingkungan, Diploma 4 Kebidanan dan Diploma 4 Keperawatan.
            Dengan adanya Kepmenkes RI No : HK.03.05/1.2/03086/2012, tanggal 26 April 2012 tentang petunjuk teknis Organisasi dan tata laksana Piliteknik Kemenkes Manado di pimpin oleh seorang Direktur dengan di bantu oleh 3 orang pembantu direktur (Pudir), Kepala Sub Bagian, Kepala Unit dan Kepala Urusan . Pembantu direktur (Pudir) Terdiri dari Pudir I membidangi Akademik, Pudir II Membidangi Keuangan, kepegawaian dan umum serta Pudir III Membidangi kemahasiswaan. Kepala Sub Bagian terdiri dari kepala Sub bagian Administrasi Akademik, kemahasiswaan, perencanaan dan system informasi. Dan kepala Sub bagian Administrasi Umum, Keuangan dan kepegawaian. Kepala unit ada 10 yaitu terdiri dari unit penelitian dan pengabdian pada masyarakat, unit Laboratorium, Unit Perpustakaan, Unit Komputer, Unit Bengkel, Unit Asrama, Unit pemeliharaan dan perbaikan, unit penjaminan mutu, unit layanan pengadaan dan Unit pusat Karir.Kepala Urusan ada 8 terdiri dari Urusan Humas dan Kerjasama , Urusan Akademik, Urusan Kemahasiswaan, Urusan Perencanaan, dan system informasi. Urusan Umum, Urusan Keuangan, Urusan Kepegawaian, Urusan Barang Milik Negara, sedangan untuk melancarkan proses pembelajaran di tiap-tiap jurusan di pimpin oleh Ketua Jurusan dan di bantu oleh Sekretaris Jurusan dan Ketua Program Studi serta Sekretaris Program Studi.

Kampanye Jawa 1806–1807

Unknown | 0 comments
Kampanye Jawa 1806–1807 adalah sebuah kampanye kecil pada Peperangan era Napoleon oleh pasukan Angkatan Laut Inggris melawan pasukan angkatan laut Kerajaan Belanda, sebuah negara klien dari Kekaisaran Perancis, yang berpusat di pulau Jawa, Hindia Belanda. Bertujuan menghilangkan segala macam ancaman terhadap konvoi dagang Inggris yang berlayar melalui Selat Malaka, Laksamana Muda Sir Edward Pellew pada awal 1806 memutuskan bahwa angkatan laut Belanda yang berpusat di Jawa, yang meliputi beberapa ship of the line dan tiga fregat, harus dikalahkan untuk mengukuhkan kekuasaan Inggris pada daerah tersebut. Dikarenakan kurangnya angkatan bersenjata untuk penyerangan ke koloni Belanda, Pellew mengisolasi dan memblokade pasukan Belanda yang berbasis di Batavia dalam persiapan penyerbuan secara khusus yang menyasar ke kapal Belanda dengan angkatan bersenjata utamanya.
Walaupun rencananya tertunda oleh kurangnya sumberdaya dan karena Pemberontakan Vellore di India, Pellew mengirimkan fregat HMS Greyhound ke Laut Jawa pada Juli 1806. Greyhound menyegat dan mengalahkan konvoi Belanda keluar dari pantai Sulawesi pada 25 Juli dan 3 bulan kemudian fregat HMS Caroline berhasil menangkap fregat BelandaMaria Riggersbergen di pintu masuk pelabuhan Batavia. Setelah kesuksesan ini, Pellew berhasil membawa pasukan utamanya memegang kendali atas pulau tersebut dan pada November 1806 ia meluncurkan serangan besar di Batavia, menghancurkan fregat yang tersisa dan sejumlah kapal perang kecil dari angkatan Belanda. Ship of the line Belanda berhasil melarikan diri sebelum serangan Pellew ke pelabuhan Gresik dekat Surabaya, dan walaupun mereka tua dan dalam keadaan perbaikan yang masih buruk Pellew terpaksa memimpin operasi keduanya ke Jawa pada Oktober 1807, memegang kendali pelabuhan dan mengalahkan sisa angkatan laut Belanda di timur.
Kemenangan tersebut memberikan kekuasaan Inggris atas para pesaing Eropa di Samudera Pasifik timur dan Samudera Hindia barat, mengijinkan jalan perdagangan bebas bagi Inggris melalui daerah tersebut dan Inggris juga bisa fokus pada satu sisa ancaman bagi konvoi dagang mereka di Samudera Hindia: kepulauan Perancis Île Bonaparte dan Isle de France(saat ini Mauritius).


Sejarah Dunia

Unknown | 0 comments
Sejarah dunia adalah sejarah umat manusia di seluruh dunia, di semua daerah di Bumi, dirunut dari era Paleolitikum (zaman batu tua). Berbeda dengan sejarah Bumi (yang mencakup sejarah geologis Bumi dan era sebelum keberadaan manusia), sejarah dunia terdiri dari kajian rekam arkeologi dan catatan tertulis, dari zaman kuno hingga saat ini. Pencatatan sejarah dimulai sejak aksara dan sistem tulisan diciptakan, tetapi asal mula peradaban bertolak dari periode sebelum penciptaan tulisan, atau zaman prasejarah
Prasejarah dimulai dari Paleolitikum (zaman batu tua), diikuti dengan Neolitikum (zaman batu muda) dan Revolusi Pertanian (antara 8000–5000 SM) di kawasan Hilal Subur. Revolusi tersebut merupakan titik perubahan besar dalam sejarah umat manusia karena sejak masa itu mereka telah mampu membudidayakan tumbuhan dan hewan. Seiring dengan perkembangan pertanian, gaya hidupnomad berubah menjadi gaya hidup menetap sebagai petani. Kemajuan pertanian mengakibatkan pembagian strata pekerja dalam usaha panen. Strata pekerja menyebabkan munculnya strata masyarakat dan perkembangan kota-kota. Banyak kota kuno berkembang di tepi-tepi kumpulan air (danau dan sungai) yang dapat menyokong kehidupan. Pada masa 3000 tahun sebelum Masehi, telah muncul peradaban di lembah Mesopotamia (dataran di antara sungai Tigris dan Efrat) di Timur Tengah, di tepi Sungai Nil, Mesir, dan di lembah Sungai Indus. Selain itu, peradaban juga muncul di lembah Sungai Kuning. Di tempat-tempat perkembangan peradaban kuno, pertumbuhan masyarakat yang semakin kompleks menyebabkan penciptaan aksara untuk mempermudah usaha administrasi dan niaga.

Sejarah Dunia Lama (khususnya Eropa dan Mediterania) umumnya terbagi menjadi Abad Kuno, yang terhitung dari zaman sebelum476 Masehi; Abad Pertengahan,  dari abad ke-5 hingga abad ke-15, meliputi Zaman Kejayaan Islam (sekitar 750 M hingga sekitar 1258 M) dan Zaman Renaisans Eropa Awal (bermula sekitar 1300 M). Abad Modern Awal dari abad ke-15 sampai akhir abad ke-18, mencakup Abad Pencerahan; dan Abad Modern Akhir, dari masa Revolusi Industri hingga sekarang, termasuk sejarah kontemporer. Dalam sejarah Eropa Barat, "Kejatuhan Roma" tahun 476 M umumnya dipandang sebagai penanda akhir Zaman Kuno dan permulaan Abad Pertengahan. Sebaliknya, di Eropa Timur terjadi transisi dari Kekaisaran Romawi menjadi Kekaisaran Bizantium, yang tidak runtuh sampai berabad-abad kemudian. Pada pertengahan abad ke-15, teknik cetak modern yang ditemukanJohannes Gutenberg merevolusi metode komunikasi, dan berperan dalam mengakhiri Abad Pertengahan serta menjadi perintis dalam Revolusi Ilmiah Pada abad ke-18, akumulasi pengetahuan dan teknologi—khususnya di Eropa—telah mencapai massa genting yang menuju kepada Revolusi Industri. Di tempat lain, meliputi Timur Dekat Kuno, Tiongkok Kuno, dan India Kuno, terjadi rentang sejarah berbeda-beda. Pada abad ke-18, karena perdagangan internasional dan kolonisasi yang ekstensif, sejarah berbagai peradaban menjadi terjalin secara signifikan (lihat: globalisasi). Dalam waktu sekitar seperempat milenium, angka pertumbuhan jumlah penduduk, pengetahuan, teknologi, perekonomian, tingkat kerugian senjata, dan kerusakan lingkungan meningkat drastis, mendatangkan risiko bagi kelayakhunian Bumi.

Asal-Usul Manusia Sangihe Talaud

Unknown | 0 comments
Peta genetika yang kini terbuka luas, setidaknya memberikan cukup sinar atas tabir rahasia sebuah pertanyaan besar: Dari manakah nenek moyang kita berasal? Dari manakah kita datang? Meskipun masih menyisakan sejumlah teka-teki, tapi dibanding masa sebelumnya, dunia antropologi saat ini melakukan lompatan besar dalam menyusun peta genetis yang menjelaskan mata rantai persebaran umat manusia di suluruh bumi. Penjelasan-penjelasan yang lebih ilmiah ini mulai menggeser keyakinan klan-klan umat manusia diberbagai tempat akan cerita ke-asal-an manusia yang bersumber dari mite dan legenda.
Seperti klan lain di Indonesia, orang Sangihe Talaud sebagai sebuah indigenous, dalam kurun ribuan tahun hidup dalam mite dan legenda tersendiri, yang pada akhirnya melahirkan system nilai dalam kehidupan mereka. Tapi apakah dengan demikian membedakan ke-asal-an etnik ini dengan suku bangsa lain di jazirah Nusantara? Kajian antropologi kebudayaan pada masa sebelumnya menjelaskan orang Sangihe Talaud merupakan rumpun manusia berbahasa Milanesia yang berasal dari migrasi Asia pada 40.000 tahun SM. Kemudian disusul pada masa yang lebih muda sekitar 3.000 tahun SM dari Formosa yang berbahasa Austronesia. Penemuan terbaru yang lebih mengejutkan yang berhasil mematahkan terori linguistic di atas, adalah adanya kemungkinan nenek moyang suluruh klan di Indonesia berasal dari Nias-Mentawai, dengan ciri gen dari masa yang lebih tua sebelum migrasi Formosa.
Agak berbeda dengan sejumlah anasir antropologi kebudayaan, hasil peneletian gen manusia saat ini memberikan cerita tentang pengembaraan panjang leluhur manusia di seluruh dunia yang disebut berasal dari Afrika sejak 50.000 tahun silam yang berekspansi ke Eurasia. Perhitungan para paleoantropolog dan pakar genetika menyebutkan homo sapiens ini berasal dari 200.000 tahun silam dan berhasil mengembangkan keturunan sebanyak enam setengah miliar jiwa. Hal ini dibuktikan dengan pemetaan gen yang menunjukkan 99,9 persen kesamaan kode-kode genetika atau genom manusia di seluruh dunia. Sisanya 1 persen hanya menegaskan perbedaan individual seperti warna mata atau resiko penyakit. Perjalanan panjang itu pun telah membawa sejumlah perubahan lain seperti mutasi neurologist yang menciptakan perbedaan bahasa lisan dan juga sebuah perubahan wajah dan ras baru.
Lalu, benarkah setiap manusia yang pernah hidup di bumi berasal dari seorang ibu Hawa Mitokondrial dan ayah Adam Kromosom Y yang hidup pada 150.000 tahun silam di Afrika? Pertanyaan ini masih membuahkan kegelisahan para ahli untuk mengungkap jawaban yang memuaskan. Yang pasti sejumlah artefak masa lalu, menunjukkan adanya migrasi umat manusia dari suatu tempat ketempat yang lain. Dan setiap klan atau etnik telah hidup dalam milenia pada sebuah tempat hingga mengalami sujumlah mutasi budaya dan tunduk pada masing-masing dewa serta melahirkan mite-mite baru dalam kehidupan kelompok masing-masing.
Bila masuk lebih dalam menelisik aneka budaya lisan di masyarakat Sangihe Talaud, kita dipertemu dengan cerita jejak nenek moyang lebih unik dan menarik seperti pengakuan adanya para pendatang (homo sapiens) yang dalam bahasa setempat disebut sebagai Ampuang (manusia biasa). Selain para pendatang ini juga ada dua jenis manusia lain yang telah ada di sana dari masa sebelumnya yaitu Ansuang (raksasa) dan Apapuhang (manusia kerdil). Untuk dua jenis manusia terakhir itu, hingga kini belum bisa dibuktikan secara ilmiah. Rujukkan terhadap keberadaan mereka masih terbatas pada kepercayaan adanya beberapa artefak seperti bekas kaki dalam ukuran besar yang terpahat di bebatuan yang bisa saja tercipta akibat fenomena alam. Apakah mereka merupakan penyimpangan genetika pada masa itu kemudian diabadikan dalam sejumlah mite dan legenda? Ini masih sebuah pertanyaan.
Sejumlah legenda pun ikut memperkaya kesimpangsiuran jejak asal muasal manusia Sangihe Talaud. Dari kepercayaan turun-temurun. Pulau-pulau Sangihe Talaud konon tercipta dari air mata seorang bidadari. Dari bidadari inilah manusia Sangihe dilahirkan. Ini sebabnya nama Sangihe itu berasal dari kata Sangi (tagis}. Di pulau-pulaud Talaud, penyebutan Porodisa untuk kawasan itu justru dikaitkan dengan anggapan dimana manusia Talaud adalah keturunan Wando Ruata, yaitu seorang manusia gaib yang berasal dari Surga. Padahal kata Porodisa menurut teori linguistic justru merupakan mutasi neurologist bahasa lisan dari bahasa Spanyol: Paradiso (surga). Kata Sangi di Sangihe sendiri merupakan mutasi dari kata Melayu: tangis. Mite lainnya bercerita tentang manusia yang berasal dari telur buaya. Ada juga yang beranggapan terjadi dari evolusi pelepah pisang secara mistis menjadi manusia.
Kepercayaan terhadap dewa dewi dan system nilai budaya orang Sangihe Talaud ini menujukan adanya persinggung dengan system nilai di tempat lain seperti teori keseimbangan alam, memiliki kesamaan dengan teori Fun She dan Esho Funi dalam pemahaman Hindu kuno. Kepercayaan “Manna” atau kepercayaan terhadap adanya kekuatan mekanis dalam alam yang mempengaruhi peri kehidupan manusia, bukan tidak mungkin merupakan interpretasi lain akibat mutasi dari pemahaman kaum semitik akan Tuhan. Demikian pula dengan budaya ritual persembahan kurban yang mengunakan symbol darah Manusia yang di pukul sampai mati.
Manusia Sangihe Talaud sejak masa purba, juga mengakui adanya zat suci pencipta alam semesta dan manusia yang di sebut “Doeata,Ruata”, juga dinamakan ”Ghenggona”. Di bawahnya, bertahta banyak roh Ompung (Roh penguasa laut), dan Empung (roh penguasa daratan). Dewa-dewi ini berhadirat di gunung dan lembah-lembah, di laut, di sehamparan karang. Di cerocok dan tanjung. Di pohon, dan dalam angin. Di cahya, bahkan bisikan bayu. Di segala tempat, ruang, dan suasana.
Kendati begitu, eksplorasi yang lebih ilmiah terhadap asal usul manusia Sangihe Talaud, yang telah ada saat ini baru sebatas dari masa abad ke 14. Bermula pada periode Migrasi Kerajaan Bowontehu 1399-1500. Disusul periode Kerajaan Manado 1500-1678. Dan terakhir periode kerajaan-kerajaan Sangihe Talaud dari 1425-1951.
Gumansalangi (Upung Dellu) sebagai Kulano tertua kerajaan Tabukan atau Tampunglawo, yang bermukim di gunung Sahendarumang bersama Ondoasa (Sangiang Killa), istrinya, adalah anak dari Humansandulage bersama istrinya Tendensehiwu, yang mendarat di Bowontehu pada awal mula migrasi Bowontehu, Desember 1399. Mereka melakukan pelayaran dari Molibagu melalui Pulau Ruang, Tagulandang, Biaro, Siau terus ke Mangindano (Mindanau-Filipina), kemudian balik ke pulau Sangir – Kauhis dan mendaki gunung Sahendarumang, dimana mereka dan para pengikut mendirikan kerajaan Tampunglawo sebagai kerajaan tertua di Tabukan, yang pada periode kemudian melebar hingga ke seluruh kawasan kepulauan Sangihe dan Talaud.
Sementara Bulango bermigrasi dari Bowontehu pada 1570 menuju Tagulandang dimana anaknya bernama ratu Lohoraung mendirikan kerajaan Tagulandang di pulau itu bersama para pengikutnya.
Bulango adalah saudara dari Lokongbanua, raja pertama kerajaan Siau. Keduanya adalah anak dari raja Mokodoludut dengan istrinya Abunia dari kerajaan Bowontehu. Sedangkan Raja Bolaang Mangondow pertama, Yayubongkai, adalah juga putra Mokoduludut. Ini sebabnya ada kesamaan budaya dan marga antara orang Bolaang Mangondow dan orang Sangihe Talaud. Perubahan budaya di kedua etnik ini lebih dipengaruhi oleh alkulturasi pasca masuknya agama-agama semitik, (Kristen-Islam) di kedua kawasan etnik itu.
Untuk wilayah Kauhis-Manganitu, semuanya berasal dari keturunan Gumansalangi hingga keturunannya bernama Tolosang pada 1600 mendirikan kerajaan Kauhis- Manganitu. Demikian pula di Tahuna pada 1580 Tatehe Woba mendirikan kerajaan di sana, juga di Kendahe yang didirikan oleh Mehegelangi. Raja Kendahe ini anak dari Syarif Mansur dan istrinya Taupanglawo.
Sebelum periode migrasi Bowontehu (Manado Tua) pada 1399, kawasan itu telah dihuni manusia selama enam generasi. Tapi hal terpenting dalam hubungan kekeluargaan oranga Sangihe Talaud dan Bolang Mangondow, dipercaya karena berasal dari Migrasi Bowontehu.
Oleh : Iverdixon Tinungki
www.senibudayakita.com

Sejarah Cap Tikus di Indonesia

Unknown | 0 comments
Sejarah Minuman Olahan Khas Minahasa “CAP TIKUS” – Siapapun yang datang mengunjungi daerah Minahasa, tentunya akan mengetahui jenis minuman tradisional Minahasa beralkohol tinggi yang lebih dikenal dengan “Cap Tikus”. Minuman yang diproduksi tanpa ada campuran kimia ini memang dihasilkan oleh para petani yang daerahnya banyak dipenuhi pohon “Seho”. Minuman “cap tikus” ini dibuat sendiri oleh orang Minahasa dan orang Sangir dengan cara tradisional. Sebelum dibuat “Cap Tikus”, para petani harus “Batifar” dulu untuk menghasilkan minuman “Saguer” yang diambil dari pohon seho atau aren – dalam bahasa Minahasa disebut “Akel” .Saguer dibuat dengan cara tangkai bunga pohon aren yang sebesar pergelangan tangan orang dewasa, dibersihkan dan dipukul-pukul selama beberapa hari lalu dipotong. Dari potongan ini akan keluar getah warna putih susu yang menetes dengan cepat hingga perlu tempat penampungan yang ukuran seruas bambu. Cairan warna putih susu inilah yang dinamakan Saguer.
Dalam pembuatan cap tikus, air saguer tadi dialirkan melalui pipa-pipa bambu yang sudah diatur sedemikian rupa. Uap panas yang melalui pipa bambu yang panjang ketika mencair akan berubah menjadi Cap Tikus. Para pembuat Cap Tikus lebih suka memilih lokasi pegunungan yang dingin dan tempat berbukit supaya pipa bambu penyulingan tidak diatas pohon tapi dipermukaan tanah perbukitan.
Legenda Minahasa mengenal dewa Makawiley sebagai dewa saguer pertama (Leway = busa saguer). Kemudian ada juga dewa saguer yang bernama Kiri Waerong yang dihubungkan dengan pembuatan gula merah dari saguer yang dimasak. Dewa saguer yang ketiga adalah dewa Parengkuan yang dihubungkan dengan air saguer yang menghasilkan Cap Tikus . Parengkuan mempunyai kata asal “rengku” artinya, minum sekali teguk ditempat minum yang kecil. Dari arti kata tersebut maka orang Minahasa menyakini bahwa Parengkuan adalah orang Minahasa pertama yang membuat minuman Cap Tikus.
Minuman keras tradisionil Minahasa ini pada mulanya bernama sopi. Namun, nama “Sopi” berubah menjadi Cap Tikus ketika orang Minahasa yang mengikuti pendidikan militer untuk menghadapi perang Jawa, sebelum tahun 1829, menemukan mimuman “Sopi” dalam botol-botol biru dengan gambar ekor tikus. Minuman “Sopi” itu dijual oleh para pedagang Cina di Benteng Amsterdam Manado.
Dalam upcara naik rumah baru, para penari Maengket menyanyi lagu Marambak untuk menghormati dewa pembuat rumah, leluhur Tingkulendeng . Tuan rumah harus menyodorkan minuman Cap Tikus kepada Tonaas pemimpin upacara adat naik rumah baru sambil penari menyanyi ” tuasan e sopi e maka wale ” artinya, tuangkan minumam Cap Tikus (sopi) wahai tuan rumah.
Keterangan mengenai minuman Cap Tikus di Ternate ditulis oleh juru tulis pengeliling dunia Colombus dari Spanyol bernama Antonio Pigafetta. Setelah kapal mereka melalui dua buah pulau Sangir dan Talaud lalu tanggal 15 Desember tahun 1521 mereka tiba di pelabuhan Ternate – dijamu Raja Ternate dengan minuman arak yang terbuat dari air tuak yang dimasak.
Sayang sekali buku “Perjalanan keliling dunia Antonio Pigafetta” terbitan tahun 1972 halaman 127 – 128 tidak menjelaskan dari mana Raja Ternate mendapatkan minuman Cap Tikus. Kalau kita lihat masyarakat Ternate tidak punya budaya “Batifar” hingga kemungkinan besar minuman Cap Tikus sama halnya dengan beras yang didatangkan ke Ternate dari Minahasa. Budaya produksi dan menjual minuman Cap Tikus masih berlanjut di Minahasa hingga sekarang ini dengan penjualan sampai ke Irian.
Data ini menunjukkan bahwa bukan orang Spanyol yang mengajarkan cara membuat minuman Cap Tikus di Minahasa. Karena, waktu pertama kali orang Spanyol datang di Ternate, minuman itu sudah ada. Bagi orang Spanyol, minuman Cap Tikus telah menjadi bumerang karena melalui minuman itulah orang Spanyol di usir dari Minahasa. Hal itu terjadi karena serdadunya suka mabuk-mabukan dan akhirnya membunuh Dotu Mononimbar di Tondano dan melukai anak Kepala Walak Tomohon tahun 1644.
Masa hidup dewa minuman keras Minahasa Opo Parengkuan adalah sebelum periode kedatangan bangsa kulit putih Portugis – Spanyol di Minahasa tahun 1512 – 1523. Pada waktu itu pedagang Cina dengan perahu yang telah datang membawa keramik ke Minahasa. Dari usia dinasti keramik Cina di Minahasa abad 13 dan abad 14, dapat diperkirakan bahwa orang Cina-lah yang mengajarkan orang Minahasa untuk membuat minuman keras Cap Tikus dengan menyuling Saguer.
Tapi menurut buku ” Adatrechtbundels XVII. 1919 halaman 79 ” , minuman keras tradisionil ini telah menyelamatkan orang Minahasa dari ketergantungan Candu dan Opium di abad 18. Karena orang Minahasa sangat mencintai minuman Saguer dan Cap Tikus, maka orang Minahasa sudah tidak tertarik lagi dengan candu dan opium, walaupun harganya cukup murah.
Cerita Sejarah Minuman Olahan Khas Minahasa “CAP TIKUS” ini dapat dijadikan contoh bagi generasi muda sekarang agar menjauhi narkotik yang memang sudah dilarang Opok -Opok dan Dotu -Dotu Minahasa tempo dulu.
Oleh : Jessy Wenas